Ulasan Kumcer “Bu Guru Cantik” Karya Hasta Indrayana

Thought Catalog/Pixabay

Buku ini terdiri atas 19 cerpen. Sebagian besar isinya tentang kehidupan guru. Permasalahan yang dimunculkan diambil dari kehidupan nyata Pak Hasta maupun dari keluarganya yang berlatar belakang sebagai guru. Meski diangkat dari kisah nyata, tapi tetep dikemas “nyastra”.

Kisahnya membumi, ngalir, alurnya mudah dipahami. Di dalamnya diselipkan ajaran islam secara acak. Cuman sayangnya, banyak kisah yang dibuat ‘sad ending’. Saya nggak nyangka ada cerpenis laki-laki yang tulisannya “lembut” gini. Jangan lupa siapin tisu sebelum baca buku ini. Daaaann …. Buku ini direkomendasikan buat bacaan kalian yang usianya 16 tahun ke atas. Sebab, ada satu cerpen yang mengangkat isu tentang edukasi seks

Oke. Saya coba buat ringkasan cerita dari 3 cerpen yang menarik, menurut versi saya.

Cerpen 1 : “Dua Cangkir Teh dan Kisah Pendek di Sebuah Senja”

Tiap sore, sepasang suami istri minum teh sambil ngobrol atau baca buku. Hingga pada suatu magrib, terdengar suara penjaja ember yang menawarkan dagangannya di sela adzan berkumandang. Si suami yang biasanya tak jamaah magrib, hari itu tiba-tiba ingin ke masjid.

Sayangnya saat ia sampai di masjid, shalat sudah setengah jalan. Ia jadi makmum masbuq gegara waktunya kepotong buat ngobrolin soal penjual ember itu.

Beberapa waktu seusai shalat, hanya tinggal imam dan muadzin. Saat si suami keluar dari masjid, si penjual ember sedang duduk bersandar di tembok samping masjid. Si penjual tersenyum kepadanya. Si suami membalas senyum dengan sedikit gugup.

READ ALSO:  Kesehatan Mental Remaja, Sains, dan Islam

Di perjalanan pulang, wajah si penjual ember membayanginya. Ia merasa mengenal wajah itu. Ia kaget setelah menyadari wajah itu sama persis dengan dirinya.

Cover Kumcer/Dok.Pribadi

Cerpen 2 : “Cerita Istri”

Istri Pak Hasta adalah guru. Lewat cerpen ini ia menceritakan kisah istri (Bu Guru) dan seorang murid yang disayanginya. . Saat itu Bu Guru pamit ke suaminya untuk menjenguk murid yang sakit typus.

Asna, namanya. Asna tinggal di pelosok desa bersama ibu dan dua kakak kandungnya yang menganggur. Karena keterbatasan biaya dan kurangnya pemahaman akan penanganan medis, Asna hanya dibawa ke dukun. Ketika berpamitan, Bu Guru meminta ibunya Asna untuk membawa Asna ke rumah sakit. Bu Guru menyelipi uang. Ibu Asna akhirnya menjawab. Iya, sore nanti.

Bu Guru menanti kapan Asna sembuh dan bisa sekolah. Asna murid yang rajin dan hobi baca buku. Bu Guru kangen degan muridnya yang satu itu. Saat jalan-jalan, Bu Guru mampir membelikan buku cerita buat Asna. Rencananya buat kado kalau Asna sudah masuk sekolah.

Dua hari setelah kunjungan itu ibunya Asna ke sekolah pagi-pagi. Ibunya Asna mengelilingi tembok belakang sekolah sambil menciprat-cipratkan seplastik air dari rumah dan membakar menyan. Di hari yang sama, seusai magrib Bu Guru dapat berita lelayu melalui WhatsApp. Asna meninggal.

Mungkin banyak keluarga seperti Asna, yang untuk pergi ke puskesmas saja tak ada ongkos buat naik angkot. Dan banyak hal.

Cerpen 3 : “Tasbih”

Berkisah tentang seorang perempuan bernama Cahaya. Ia adalah anak bungsu yang ‘paling dekat’ dengan ibu dan bapaknya. Di usianya yang menjelang 25 tahun, ia ingin memberi kado buat ibu. Tak disangka, ibu menolak karena merasa tak butuh kado. Cahaya kecewa. Ia berpikir bahwa ibunya memang tidak mau membuat repot siapa pun, termasuk anak-anaknya, urusan kado pun.

READ ALSO:  Cari-Cari Alasan Untuk Menikah

Cahaya lahir dari keluarga Islam abangan. Ia dan suaminya sempat tergagap ketika anaknya-yang sekolah di madrasah menanyakan banyak hal tentang Islam. Hal itu membuat mereka berdua serius belajar ajaran Islam. Pada akhirnya mereka sadar, bahwa hidup sesuai tuntunan Islam itu penting.

Hingga pada suatu ketika, ia berusaha membimbing Bapaknya menempuh jalan religi seperti dirinya. Mengajari doa-doa yang tidak diketahui Bapak agar lebih dekat dengan-Nya. Di hari ulang tahun Bapak, Cahaya memberikan kado tasbih dari kayu cendana. Tasbih yang dipesannya dari Denpasar.

Bapak menerimanya, tapi kemudian menangis dan melemparkannya di atas meja.

“Sejak kecil, aku tak kenal ulang tahun. Baru sekali ini. Apa kamu tahu kalau bapakmu ini sudah mau mati sehingga kamu menyuruhku banyak berdoa?”

Rupanya niat baik Cahaya tak bersambut.

Beberapa waktu berlalu, Cahaya (anak bungsu dari Cahaya-ia sengaja menamai anaknya sama persis dengan namanya) juga memberikan kado tasbih di hari ulang tahun yang ke-63. Tasbih dari batu giok yang indah. Cahaya gemetar menerima kado itu. Ia terkenang Bapaknya yang telah wafat di usia 63 tahun.

Cahaya berkata pada dirinya sendiri: Aku tak tau lagi akan bertambah berapa hari lagi umurku. Rasanya selama ini aku telah banyak berdoa. Mendoakan anak-anak. Mendoakan semua murid agar mereka selamat dunia-akhirat. Setiap hari.

Sampul Belakang/Dok.Pribadi

Buku ini layak buat koleksi lhoh. Recomended, deh!

Penulis : Hasta Indriyana
Penerbit : DIVA Press
Dimensi : 14 x 20 cm (200 hlmn)
ISBN : 978-602-391-409-8
Cetakan Pertama, Desember 2017