Melawan Miskin Pikiran (II): Belajar,Sekolah, Sukses, Kaya

Buku self improvement yang juga saya rekomendasikan adalah karya Pak Hasanudin Abdurahman. Beliau adalah seorang doktor fisika lulusan dari  universitas di Jepang. Karya Pak Hasan yang pertama saya baca adalah novel berjudul “Emakku Bukan Kartini”. Novel yang berkisah kehidupan nyata Pak Hasan, dari kecil hingga beliau meraih gelar Doktor.

Buku Melawan Miskin Pikiran (II) saya baca melalui aplikasi ipusnas.

Buku ini bertema semangat melawan miskin pikiran dalam tiga aspek: pendidikan, pekerjaan, kehidupan.

Saya pilihkan beberapa kalimat kutipan yang bagus dari beberapa bab yang ada di buku ini.  Tentu ‘bagus’ yang saya maksud itu. versi saya. 🙂

Menjadi cukup

  1. Benarkah manusia tidak pernah merasa puas? Salah. Sistem di otak kita sudah dibekali dengan saklar untuk menghentikan tindakan saat kebutuhan kita sudah terpenuhi. Hanya saja, kita atau manusia sering merusak sistem itu. Jadilah ia orang yang tak lagi bisa puas.
  2. Puasa adalah kegiatan untuk melatih otak untuk mengendalikan dorongan. Hubungan antara desire dan action dikendalikan sedekian rupa, sehingga tidak semua tuntutan desire diterjemahkan menjadi tindakan atau action.
  3. Merasa puas atau tidak, itu dalah soal bisa atau tidaknya kita mengendalikan, yaitu pada sistem pemenuhan kebutuhan kita.

Media Soial, untuk apa?

  1. Untuk apa kita mebagikan foto di media social? Salah satunya, membangun citra diri.
  2. Suatu muatan tidak akan bermakna kalau tidak diteruskan secara massal, menjadi viral. Kekuatan media social bukan sekadar pada pembuat muatannya, tapi justru pada penyebarnya.
  3. Media social adalah tempat untuk melakukan personal branding. Maka, biasakan untuk menghasilkan dan membagikan gagasan ke media social. Orang akan mengenal kita melalui gagasan itu.
  4. Penting bagi setiap orang untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang dia hasilkan dari aktivitas media social.
READ ALSO:  Inilah Keuntungan Menyekolahkan Anak di Pondok Pesantren

Kamu adalah kebiasaanmu

  1. Berulang adalah sifat penting pada kebiasaan, yang membuatnya memiliki kekuatan yang hebat.
  2. First we make our habits, then our habits make us. Artinya, kita bisa membangun kebiasaan, kemudian kebiasaan-kebiasaan itu yang membentuk diri kita. Itulah yang menjadi dasar berpikir para ahli pengembangan diri dalam membangun metode yang mereka tawarkan.
  3. Kebiasaan bukan sekadar soal tindakan fisik. Kebiasaan juga menyangkut soal berpikir. Kalau kita biasa berpikir, menganalisis, beraksi terhadap suatu situasi dengan cara tertentu, maka ia akan membentuk suatu pola pikir.

Pendidikan, membangun metode berpikir

“Bagian terpenting dari semua pelajaran adalah membangun metode berpikir, dengan menjalani prosesnya. Guru harus mampu membangun proses berpikir siswa.”

Mengubah jalan hidup

  1. Filosofi tentang cara membuat telur dadar dan telur ceplok.
  2. Dunia di sekitar kita, kejadian-kejadian yang kita hadapi seringkali tampak sanat berbeda, bila kita lihat dengan sudut pandang yang berbeda.
  3. Empat hal yang harus kita ubah untuk mengubah hidup: Sudut pandang, sikap-sikap dasar (kerja keras, disiplin, komitmen, kejujuran, respect, dsb.). mengambil risiko, dan bertindaklah sekarang!

Kembangkan kelebihanmu

  1. Kesalahanmu adalah kau mencoba meniru jalan orang yang memiliki kelebihan yang tidak kau miliki.
  2. Masalah terbesarmu adalah kau tak pernah tau kelebihan yang kau punya. Karena itu, kau tidak pernah memanfaatkannya.
  3. Banyak orang gagal memahami sukses orang lain, menyandarkan pada factor yang tidak bisa diutak-atik: hoki.

Apa yang harus dilakukan bila kita miskin?

  1. Kemiskinan bisa kita lawan. Caranya, dengan mulai berhenti menjadi orang yang miskin pikiran.
  2. Tak ada hal yang kau tak bisa, kalau kau mau belajar.
  3. Miskin pikiran itu, kita tak tahu apa yang mesti kita buat untuk diri sendiri. Kita menyalahkan orang lain, mengeluh.
READ ALSO:  Remaja Pewaris Syurga dan Sains Modern

Informasi buku :

Penulis buku : Hasanudin Abdurakhman
Tebal: 304 hlm
Ukuran: 14 x 20cm
Kertas: Premium Bookpaper
Terbit: Okt 2018
ISBN: 978-602-350-390-2