Kisah-Kisah Perempuan Pendonor Air Susu Ibu (ASI)

pixabay/Kisah-Kisah Inspiratif Ibu Pendonor ASI yang mengharukan. Yuk, simak!

A pair of substantial mammary glands has the advantage over the two hemispheres of the most learned professor’s brain, in the art of compounding a nutritious fluid for infants.” – Oliver Wendall Holmes
(Sepasang kelenjar susu memiliki keunggulan melebihi dua belahan otak profesor yang paling terpelajar, dalam seni meracik cairan bergizi untuk bayi).

Pandangan Islam Terhadap Menyusui

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, sering disingkat WHO) merekomendasikan Air Susu Ibu (ASI) sebagai satu-satunya makanan pokok bayi selama 6 bulan pertama. Disarankan, pemberian ASI berlanjut sampai anak berusia 2 tahun disertai dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).

Karena berbagai alasan, ada banyak ibu yang ragu untuk menyusui bayinya. Sebagian karena takut nutrisi ASI tidak bisa mencukupi kebutuhan si kecil, sebagian lainnya khawatir aktivitasnya menjadi terganggu.
Dikutip dari buku Keluarga Sejahtera dan Kesehatan Reproduksi Dalam Pandangan Islam yang disusun KH. Abdullah Hasyim dkk., bayi sebaiknya segera disusui oleh ibunya, setidaknya dalam 30 menit pertama setelah dilahirkan. Bayi dilatih untuk mengisap puting susu meski ASI belum keluar.

Al-Quran pun sudah memaparkan dengan jelas tentang menyusui ini, Bun. Tertulis dalam Surat Al-Baqarah ayat 233 bahwa menyusui selama dua tahun akan menyempurnakan masa penyusuan.

  • وَالْوَالِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۗ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَاۤرَّ وَالِدَةٌ ۢبِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَ ۚ فَاِنْ اَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗوَاِنْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْٓا اَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآ اٰتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
READ ALSO:  Tingkatan Cinta

“Dan bagi para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Berdasarkan terjemahan ayat Al-Quran di atas, dapat dipahami secara jelas bahwa menyusui adalah perintah langsung dari Allah SWT. Perintah ini sejalan dengan anjuran WHO. Namun, Allah tidak memaksakan apabila ibu berhalangan untuk menyusui selama dua tahun penuh.

Apabila karena beberapa alasan ibu akhirnya harus menyapih si kecil, ibu diperbolehkan untuk melakukkannya. Al-Quran bahkan sudah mengatur jelas bahwa anak boleh diberi ASI dari ibu donor dengan perjanjian yang jelas.

Pada postingan ini saya bagikan 3 kisah ibu pendonor ASI. Kisah  ini patut dijadikan teladan. Mereka sangat memahami betapa bernilai ASI-nya dan ingin berbagi dengan bayi yang membutuhkan. Harapannya semoga postingan ini semakin memotivasi ibu untuk menyusui atau ikut ambil bagian sebagai pendonor ASI.


Donor ASI Sang Influencer

Sherly Lembono adalah selebgram dan influencer wanita kelahiran 14 Oktober 1994 dari Kota Surabaya. Ia menjadi pendonor ASI bagi puluhan bayi di Surabaya lewat Panti Pondok Sehat secara rutin. Dalam satu bulan, Sherly dapat menyumbangkan setidaknya 150 hingga 450 pack ASI.

READ ALSO:  5 Aplikasi Parental Control Terbaik Untuk Melacak Aktivitas Online Anak-Anak
Sherly Lembono/Instagram @sherlylembono

Sherly berjuang dan tekad keras untuk konsisten menjadi pendonor ASI. Dia memompa ASI setiap dua jam sekali. Proses pompa ASI diusahakan tidak lebih maupun kurang. Demi hal itu, ia merelakan jam tidurnya.

Sherly juga menyemangati ibu-ibu untuk menjadi pejuang ASI, terutama para ibu muda. Melalui akun media sosialnya , ia membagikan tips untuk memperbanyak produksi ASI.


Donor ASI Seorang Ibu Tanpa Bayi

Selain Sherly Lembono, di belahan bumi lain ada ibu yang termotivasi menjadi pendonor ASI untuk mengenang bayinya yang telah meninggal dunia. Perempuan itu bernama Sierra Strangfeld. Bayi laki-lakinya meninggal dunia 3 jam setelah dilahirkan.

Pada minggu ke-20 usia kehamilan, janinnya didagnosis dengan Trisomy 18. Trisomy 18 merupakan kondisi yang disebabkan oleh kromosom ekstra 18. Kelainan tersebut merupakan kelainan genetik langka yang terjadi pada sekitar 1 dari setiap 6.000 kelahiran hidup. Tidak ada pengobatan untuk kelainan ini dan biasanya berakhir bayi lahir meninggal atau kematian dini.

Facebook.com/Sierra Strangfeld

Meskipun Sierra Strangfeld dan suaminya telah mengetahui peluang hidup bayinya sangat kecil, mereka tetap meminta dokter melakukan operasi caesar agar bisa melihat bayinya terlebih dahulu.

“Ada kalanya saya marah karena mengapa ASI saya harus masuk ketika saya tidak punya bayi untuk disusui? Kenapa aku terbangun di tengah malam karena ini? Bagian lain dari diriku merasa itu adalah satu-satunya hal yang menghubungkanku dengan Samuel di Bumiside. Saya harap dia bangga dengan saya!”, ujar Sierra

Sejak itu Sierra bertekad merelakan kepergian anaknya dengan cara menyelamatkan hidup bayi lain. Ia mendonasikan ASI-nya.

Facebook.com/Sierra Strangfeld dan ASI yang didonorkannya

Selama lebih dari dua bulan setelah kelahiran putranya, Sierra Strangfeld selalu memompa ASI-nya dan sumbangkan ke bank susu NICU.

READ ALSO:  Inilah Keuntungan Menyekolahkan Anak di Pondok Pesantren

Pendonor ASI di Masa Pandemi Covid-19

Banyak pemberitaan bahwa ratusan bayi kurang beruntung karena ibunya meninggal terpapar Covid-19. Hal ini membuat Kiasatina Amalia merasa iba. Bayi-bayi itu memerlukan ASI ekslusif.

Awalnya ia mempromosikan ASI yang telah dipompanya  melalui media sosialnya. Ia sempat punya kendala kehabisan kantung ASI. Namun, kendala itu dapat diatasi berkat bantuan Deputi Relawan Koordinator Nasional Berani Bangkit (Zaenal Abidin). Ia menerima bantuan berupa kulkas freezer dan botol ASI ukuran 100 mililiter.

Kiasatina Amalia
Pendonor ASI Bagi Bayi Terdampak Covid-19

“Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi, tidak perlu menunggu sukses untuk memberi, tidak perlu menunggu hebat unutk menjadi orang yang berguna bagi orang lain, saya berbagi dengan apa yang saya miliki,”kata Tina kepada wartawan saat di Cibubur.

Begitulah kisah haru perjuangan 3 ibu pendonor ASI.  Jangan  pernah lelah atau patah semangat ya, Bunda. Tetap belajar dan saling berbagi informasi serta inspirasi supaya lebih banyak anak Indonesia yang mendapatkan ASI.