Gagal Tak Berujung

Kita menciptakan lompatan kecil, menuju sukses masing-masing

Gali Potensimu!

Lingkungan positif adalah lingkungan yang bisa mendidik remaja untuk memiliki kemandirian, tanggung jawab, dan kepercayaan diri semenjak kecil.

Di antara jenis pendidikan yang penting adalah pendidikan untuk menghadapi kegagalan, yang berarti seorang remaja mampu belajar dari kesalahan-kesalahannya dan berusaha untuk mencapai kebenaran.

Salah satu hal yang menjadi dasar dari terciptanya lingkungan yang mendukung itu adalah mengajari anak-anak remaja kita melihat kegagalan dari sisi lain.

Artinya, ia mampu melihat kegagalan sebagai pengalaman yang di dalamnya terdapat hikmah berharga.

Dalam kondisi demikian, tanggapan terhadap masa-masa kegagalan dalam kehidupannya berjalan alamiah dan tidak membuatnya frustasi. Pada saat yang sama, kita juga memotivasi anak remaja kita agar tidak putus asa.

Hanya sedikit orang yang mau belajar dari kegagalan. Umumnya orang menganggap kegagalan adalah sesuatu yang buruk, sehingga tidak menjadikannya pengalaman berarti.

Benarkah begitu?Kegagalan adalah suatu kondisi saat ekspektasi tidak sesuai harapan yang memicu kekecewaan.

Setiap orang memiliki panjang durasi kegagalan yang berbeda-beda di tiap tahap.

Tidak ada yang bisa menentukan waktu ideal untuk seseorang dapat bangkit lagi dari suatu kegagalan. Namun yang pasti adalah, tiap orang memiliki kesempatan untuk memulai kembali.

Angela Duckworth yang juga seorang psikolog dan penulis menyebutkan bahwa:

“kesuksesan itu tidak pernah final; kegagalan itu tidak pernah fatal. Yang penting adalah keberanian.”

Salah satu faktor seseorang bisa sukses untuk belajar dari kegagalan yaitu memiliki growth mindset. Mereka yang tidak memandang kegagalan sebagai akhir. Kegagalan itu ada ujungnya!

Ciri-ciri seseorang dengan growth mindset ialah merasa kemampuan yang dimilikinya merupakan proses dari belajar, gengsinya rendah dan mau mengambil ilmu dari manapun dari apapun, serta menghargai tiap proses yang harus dilaluinya.

READ ALSO:  Ulasan Buku "Perjalanan Rasa" Karya Fahd Pahdepie

Untuk itu, kita juga perlu membuat analisis SWOT terhadap diri sendiri. Apa manfaatnya mengkorek keterbatasan yang ada pada diri?

“Ketahuilah kekuranganmu, tapi bukan untuk dikeluhkan.”

Tentu saja menemukan keterbatasan diri dan berniat mengubahnya adalah hal terbaik untuk menggapai impian. Setelah memahami kekurangan yang ada pada diri, maka kita mudah menemukan siasat yang solutif.

Solusi yang personal. Menemukan jalan termudah yang mampu kita raih.

Anak Panti Berprestasi

Kisah pertama tentang Nurnajimah. Kawan kita dari SMK Negeri 1 Sewon, Yogyakarta punya kisah yang menarik buat kita simak. Nur (begitu nama panggilannya) mendapatkan nilai 100 mapel Bahasa Indonesia di UNBK tahun 2019.

Tinggal di Panti Asuhan dengan segala keterbatasannya tak menghalangi semangatnya berprestasi. Ia pandai membagi-bagi waktu antara kegiatan panti dan waktu belajar agar tak bentrok. Kata Nur, kegiatan panti tak tentu. Semisal ada donatur yang minta doa, dan para anak panti harus menyanggupi waktunya kapan saja walau tengah malam.

Nur pandai mengasah kemandiriannya. Sebelum UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer)  ia sama sekali tak mengikuti les atau bimbel. Ia menyiasati dengan belajar mandiri menggunakan soal UN tahun sebelumnya. Ia pinjam buku kumpulan soal HOTS (High Order Thinking Skills) dari perpustakaan sekolah dan juga dari kakak kelas.

Nur juga punya impian kuliah di Universitas Islam Negeri dan menjadi guru Pendidikan Agama Islam.

Kisah Nur menginspirasi kita bagaimana menjaga diri tetap fokus pada cita-cita. Dalam kesempatan apapun, hambatan pastilah ada. Bekal utama menghadapi itu adalah menyiapkan diri sebaik mungkin. Allah pasti telah menyiapkan ‘hadiah’ bagi siapa saja yang sabar dan tak kenal putus asa. Itu janji Allah. Janji Allah itu benar dan pasti.

Tempaan yang Menguatkan

Kisah kedua masih tentang kehidupan Panti Asuhan. Pak Ketut Putra Suarthana. Belau anak petani penggarap tanah puri. Sejak kecil ia menggembala itik dan ikut ibunya bekerja dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter.

Orang tuanya tak mampu membiayai hidup anak-anaknya yang berjumlah 12 orang karena kesulitan ekonomi. Sebagai anak bungsu, ia terpaksa rela dengan keputusan orang tua yang menjadikannya anak panti asuhan di Melaya, Jembrana.

Ketika menjadi anak panti asuhan, kehidupannya berubah total. Seluruh kegiatannya harus mengikuti jadwal panti asuhan yang ketat. Tentu tidak mudah menyesuaikan diri dengan kehidupan baru itu. Apalagi, pengasuh panti asuhan mendidik dengan keras dan galak. Kadang pengasuh membawa pecut untuk mendisiplinkan anak-anak panti asuhan. Namun, ternyata tempaan itu membentuk Pak Suarthana menjadi manusia kuat.

READ ALSO:  Pahami Konsep Rezeki dengan Benar, Agar Lebih Ringan Menjalani Hidup

Tempaan lain yang dirasakan Pak Suarthana adalah soal makanan. Sejak memulai hidup di panti asuhan tahun 1964 sampai 1971, tidak jarang ia harus makan gaplek. Hutan di Ambisari ia jadikan sebagai tempat mempero;eh makanan tambahan, seperti papaya, nangka, dan jagung.

Setelah kelulusannya dari SMA, ia mendapatkan beasiswa akademi pariwista di Denpasar, dan mulai bekerja sambilan menjadi pembersih kolam di sanur Beach Hotel tahun 1974. Kemudian menjadi bell-boy, dan sering mendapat tip dari tamu. Ia juga sempat bekerja di bagian reservasi, front office, dan reservation manager.

Bekerja sebagai pengajar di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) di Nusa Dua dan di Kerta Wisata.
Pak Suartha juga pernah menjadi dosen dan merangkap sebagai supir bemo miliknya.

Bemo itu ia beli secara mencicil. Saat ada jam longgar dari tugas sebagai dosen, ia menjadi supir bemo rute Denpasar-Sanur. Beberapa waktu kemudian mendapat beasiswa belajar di Belanda selama 1,5 tahun.

Rejeki lain yang diterimanya, adalah keberaniannya mendirikan Pusat Pendidikan dan Latihan Pariwisata (PPLP) Dhyana Putra. Ia merintisnya bersama teman-teman gereja dengan perjuangan panjang.

Selain bergerak di bidang pariwisata, ia bersama teman-temannya juga mendirikan sekolah, mulai taman kanan-kanak, SD, SMK, bahkan sekolah tinggi ilmu ekonomi dan sekolah tinggi ilmu kesehatan.

Ia juga mendirikan TK untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tahun 2003 mendirikan spa academy atau International Spa institute, yakni lembaga pendidikan dan pelatihan yang khusus bergerak dalam pegembangan sumber daya manusia di industry spa.