Gadis Miskin dan Foto Ayam

Lihatlah Bagaimana Sebuah Buku Menjadi Tiket untuk Menjelajah Dunia/Gambar oleh Mystic Art Design dari Pixabay

“Jangan mengeluh hanya karena tidak punya sepatu sebelum melihat orang lain yang tak punya kaki.” (Anonim)

Belum jugakah kau percaya, kekuatan membaca buku? Apa yang kita baca dapat menjadi bahan bakar bagi otak. Bahwa suatu saat, itu mengantarkan kita ke tempat yang lebih baik?

Kisah Ni Wayan Mertayani mungkin bisa mendorongmu untuk lebih cinta baca buku. Dia remaja asal Banjar Biasiantang, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem. Sulung dari dua bersaudara ini berasal dari keluarga miskin. Ibunya, I Nengah Kirem, sudah bertahun-tahun menderita ginjal dan harus bekerja serabutan. Ayah Wayan wafat sejak dia berumur tiga tahun. Mereka tinggal di gubuk bambu.

Kekuatan Membaca

Untuk menopang kehidupan ia dan keluarganya berjualan kue, permen, dan makanan kecil lain di Pantai Amed. Jika dagangannya laku, dia bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 50.000,00. Tapi ia sering rugi karena banyak yang tidak membayar. Ni Wayan Mertayani bahkan hampir putus sekolah karena tidak punya uang untuk biaya sekolah.

Keluarga Ni Wayan punya puluhan ayam dan bebek serta beberapa ekor kambing. Ayam-ayamnya pun dibiarkan berkeliaran. Wayan juga menyabit rumput untuk kambingnya sebelum berjualan.

Namun, di sela kehidupannya yang keras, Wayan meluangkan waktu untuk membaca di perpustakaan milik Marie Johana Fardan. Bu Marie adalah warga Belanda pemilik vila Sinar Cinta di pantai Amed. Mereka bertetangga.

Wayan rutin membaca aneka buku. Ada satu buku yang berkesan baginya, yaitu The Diary of Anne Frank. Setelah membaca buku itu, ia tergerak bercita-cita jadi wartawan dan penulis.

READ ALSO:  Lima Kebiasaan yang Dapat Meningkatkan Kebahagiaan Hidup
Buku Harian Anne Frank

Ikut Lomba Fotografi

Pada September tahun 2009, Dolly Amarhoseija, tamu dari Belanda memberi tahu Wayan tentang lomba foto dari Yayasan Anne Frank. Wayan tertarik. Dia pun meminjam kamera digital pada tamu tersebut.

Dia memotret 15 foto dari bagian rumah dan sekitarnya. Wayan memotret ayam yang bertengger di dahan pohon, di bawah pohon itu ada jemuran berupa handuk berwarna merah jambu dan baju.

Tak disangka, foto ayam itulah yang membuatnya jadi juara. Dua belas juri dari World Press Photo mengatakan, semua unsur dalam foto Wayan bekerja sangat bagus.

Wayan, Ni Negah Jati (adik), dan Karya Fotografinya “Ayam dan Cita-Cita”

“The shape of the tree, the one chicken up in the branches, the color and light. They all work in its favor. All of this relays the photographer’s reality through subtle symbolism,” tulis juri di dalam website resmi Yayasan Anne Frank.

Wayan sendiri mengatakan ayam yang sedang bertengger di atas pohon saat itu memang menarik perhatiannya.

“Ayam itu menggambarkan kehidupan saat ini sekaligus cita-cita saya,” katanya menjelaskan.

Ayam itu simbolisasi diri dan kehidupannya.

“Ayam itu kalau panas kepanasan, hujan kehujanan. Sama seperti saya,” ujarnya.

“Saya ingin membahagiakan ibu saya,” ujar Wayan sendu.

Matanya bulat menerawang. Dia sangat sadar kemiskinan mengancam kelanjutan pendidikannya.

“Anne Frank lebih susah hidupnya. Jika dia tak mengeluh, saya juga seharusnya tidak,” ujarnya kemudian.

Kisah hidup Wayan dituangkan dalam buku terbitan Kaifa dengan harapan dapat dibaca lebih banyak anak Indonesia.

Kisah Hidup Ni Wayan yang dibukukan

Penutup

Saat penerimaan hadiah, Wayan dan adiknya Ni Negah Jati, terbang ke Belanda diantar Marie. Terpancar senyum bahagia di wajah mereka.

READ ALSO:  Tingkatan Cinta

Kisah Wayan membuktikan bahwa bacaan telah menggerakkan langkahnya. Ia tak pernah berhenti berjuang agar hidupnya menjadi lebih baik, meski serba kekurangan.[]