Anak Malas Baca Buku? Yuk, Simak Tips untuk Memilih Buku Bacaan yang Tepat

Apa sih aktivitas yang paling sering dilakukan si kecil saat luang waktunya? Misalnya saat akhir pekan. Umumnya sih anak-anak mudah bosan, lalu cenderung minta diajak main ke luar rumah.

Ada juga yang minta ijin buat main Handphone berlama-lama. Screen time tentu saja harus dibatasi ya. Mengajak si kecil berwisata terlalu sering, kadang juga tidak memungkinkan.

Sebagai orang tua kita sebaiknya nggak hanya melarang ini itu, tapi juga harus ngasih solusi buat mengatasi kebosanan mereka. Nah, salah kegiatan yang bisa dilakukan di rumah saat waktu luang adalah meminta anak membaca buku. Membaca buku punya banyak manfaat.

Anak bisa mengembangkan kemampuan imajinasi, kemampuan berbahasa, menambah kosa kata baru, mengembangkan kecerdasan emosional, menambah wawasan, serta pengetahuan baru.

Tidak hanya itu, buku bacaan dapat menjadi salah satu sumber edukasi, inspirasi, dan rekreasi bagi anak. Sangat penting bagi orang tua untuk punya pemahaman bahwa tidak semua buku yang berlabel “bacaan anak” sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menyeleksi buku bacaan yang akan dibaca oleh anak.

Postingan ini akan fokus membahas tips dan panduan memilih buku cerita yang tepat untuk anak usia Sekolah Dasar (SD), sekitar usia 6 – 12 tahun. Tau nggak sih Ayah dan Bunda? Berdasarkan sebuah penelitian, kecepatan baca rata-rata anak SD adalah dua ratus kata permenit (200 kpm).

Hal tersebut kurang lebih sama dengan satu setengah sampai dua paragraf bacaan per menitnya.  Nah, Pada usia ini umumnya si kecil sudah punya minat dan rasa penasaran pada hal-hal yang tertentu. Selain itu, mereka juga umumnya punya tokoh favorit.

READ ALSO:  Kesehatan Mental Remaja, Sains, dan Islam

Jadi… itulah pentingnya ayah dan bunda untuk tidak memaksa anak membaca sembarang buku.

Ada beberapa hal yang dapat dijadikan dipertimbangkan dalam memilih buku bacaan bagi anak. Simak penjelasannya ya.

Kesesuaian Isi Buku Dengan Tingkat Perkembangan Anak

Hal pertama yang perlu diperhatikan ialah kesesuaian isi buku dengan karakteristik tingkat perkembangan anak (usia). Kebutuhan perkembangan anak usia SD tentu berbeda dengan kebutuhan perkembangan orang dewasa. Misalnya, dalam hal buku bacaan berupa buku cerita, anak usia SD masih memerlukan bantuan gambar ilustrasi untuk memahami maksud dari sebuah bacaan. Selain itu, panjang pendek kalimat, serta kejelasan dan kelugasan bahasa yang digunakan juga perlu dipertimbangkan. Penggunaan kosa kata dan istilah yang tidak rumit, dapat membuat anak nyaman dan termotivasi ketika membaca.

Sebelum buku diberikan pada anak, orang tua perlu mencermati karakter tokoh cerita. Sebab, tokoh cerita adalah salah satu sumber transfer of values bagi anak. Tokoh cerita dapat menjadi salah satu sumber inspirasi bagi anak untuk mengenalkan, membangun dan mengembangkan kepribadian, kemampuan berpikir, serta kemampuan menulis dan berbicara anak.

Tokoh cerita adalah salah satu sumber transfer of values bagi anak

Untuk anak kelas 1–2 SD, buku dengan tema kehidupan sehari-hari, dongeng, dan fantasi rasanya lebih menarik. Tema persahabatan bisa Anda berikan ketika anak kelas 3–4 SD. Melalui tema ini, Anda dapat berdilaog serta berdiskusi dengan anak mengenai cara menghadapi konflik dengan teman.

Untuk anak kelas 5 dan kelas 6, dapat dipilihkan buku cerita yang lebih tebal dengan alur yang lebih serius. Buku-buku cerita misteri, petualangan, atau teka-teki pasti menarik minat mereka.

Selain memperkuat bonding, diskusi dan dialog dapat menumbuhkan sikap terbuka kepada anak kepada orang tua.

Alur Ceritanya yang Mudah Diikuti

Meskipun anak SD sudah lancar membaca, namun belum tentu mereka dapat memahami isi bacaannya dengan mudah. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua memberikan buku cerita dengan alur yang sederhana. puncak atau klimaks cerita yang menarik, hingga akhir cerita yang tidak bertele-tele membuat anak tak mudah bosan.

READ ALSO:  Ulasan Buku "Perjalanan Rasa" Karya Fahd Pahdepie

Memilih buku bacaan untuk anak kelas 1–3 SD, sebaiknya jangan yang terlalu banyak tokoh. Pilih alur maju agar anak lebih mudah memahami jalan ceritanya.

Alur cerita dengan sedikit flashback/alur mundur  lebih sesuai diberikan saat anak sudah kelas 5.

Kesesuaian Nilai/Value yang Ada di Buku dengan Nilai yang Ingin Ditanamkan Kepada Anak

 Banyak orang tua yang mengandalkan buku cerita sebagai media untuk menanamkan berbagai nilai positif/nilai kebaikan kepada anak. Hal yang paling penting, orang tua perlu memilih buku yang isinya sesuai dengan nilai yang ingin Anda tanamkan kepada anak.

Misalnya, buku bergambar yang sekaligus merupakan buku kumpulan cerita seri budi pekerti jilid 1 (Karya Watiek Ideo dan Nindya Maya, Penerbit BIP) dapat direkomendasikan untuk menanamkan nilai religius, toleransi, disiplin, kerja keras, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

(Catatan : E-Book dapat dibaca secara gratis di PC maupun via aplikasi smartphone & tablet Android  di https://ipusnas.id)

Buku kumpulan cerita berjudul “Juara Kejujuran” (Penerbit : Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi RI) dapat direkomendasikan untuk mengenalkan tentang anti korupsi sejak dini. (Catatan : E-Book dapat dibaca secara gratis di aplikasi smartphone & tablet Android : https://www.myedisi.com/kpk/36223/juara-kejujuran-jilid-1#book-detail)

Gambar/Ilustrasi dalam buku yang Menarik dan Edukatif

Gambar atau ilustrasi merupakan aspek penting pada buku cerita anak. Selain menarik, gambar dapat membantu anak untuk memahami isi cerita dengan lebih baik. Namun, tak semua buku bergambar boleh Anda berikan. Terdapat beberapa kasus di mana buku cerita anak mengandung gambar yang kurang pantas.

Orang tua juga perlu memilih gambar ilustrasi yang nyata (realistik) apabila anak dirasa butuh mengetahui “bentuk nyata” dari ilustrasi tersebut. Misalnya, anak belum pernah melihat gajah, maka ilustrasi lebih baik berupa foto yang menggambarkan bentuk gajah secara nyata.

READ ALSO:  Ulasan Kumcer "Bu Guru Cantik" Karya Hasta Indrayana

Bahasa yang Digunakan: Bahasa Asing, Bahasa Daerah, atau Bahasa Indonesia?

Salah satu cara mengajarkan bahasa asing kepada anak adalah dengan menggunakan buku bilingual (dua bahasa). Pada buku cerita anak yang beredar di Indonesia, Bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin dipasangkan dengan Bahasa Indonesia. Salah satu alasan mengapa orang tua perlu mengajarkan dua bahasa ke anak adalah dapat mengembangkan apresiasi terhadap budaya lain.

Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang saling berkaitan. Belajar bahasa lain dapat meningkatkan rasa ingin tahu anak serta melatih kesadaran bahwa ada lebih banyak hal di luar sana untuk dijelajahi atau dipelajari. Contoh rekomendasi buku bilingual berjudul “Mom, Dad, I Love You” (Penulis :Arleen Amidjaja, November 2015, Penerbit BIP, Ebook gratis dapat dibaca di https://ipusnas.id/)

Selain buku bilingual, anak juga perlu diperkenalkan dengan bahasa daerah. Sayangnya, pilihan buku cerita anak berbahasa daerah, tidak sebanyak buku cerita berbahasa Indonesia.

Salah satu contoh buku cerita anak berbahasa Jawa berjudul ‘Menek Wit Jambu’ (Penerbit Lingkarantarnusa, Maret 2020, https://karyakarsa.com/Lingkarantarnusa). Melalui  buku yang ditulis oleh Lia Loefrens dan Nai Rinaket ini anak juga bisa mengenal aksara Jawa serta logat bahasa.

Baca Buku Bersama, Berdialog, Membuka Cakrawala Pikiran

Ayah dan Bunda, jangan lupa luangkan waktu untuk mendampingi anak selama membaca buku. Ajaklah mereka berdiskusi mengenai apa saja yang dibacanya agar orang tua dapat memberi pemahaman dan turut terlibat dalam perkembangannya. Aktivitas ini penting untuk membuka cakrawala pikiran si kecil.

Selain buku cerita, buku-buku tentang kerajinan tangan maupun resep yang dilengkapi ilustrasi dan instruksi sederhana juga dapat dipilih untuk melatih kemampuan dasarnya.  Ajaklah anak memilih buku sesuai dengan minatnya, agar ia menikmati pengalaman membaca dan mencintai aktivitas membaca.