Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesehatan Mental Remaja, Sains, dan Islam

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kegiatan seminar yang menarik. Ada banyak poin yang bisa saya tuliskan di buku. Berikut ini resume hasil seminar dengan tema the scientist yang diselenggarakan oleh yayasan Al-kahfi, kota salatiga. Ada tiga pemateri yaitu dr. Hari Nugroho, M.D, M. Sc; Dr. Setyanto Tri Wahyudi, M. Si; dan Ustadz Agus Santoso, BA, M. Pd.

ilustrasi kesehatan mental remaja (pixabay)

Pentingnya Kesehatan Mental di Era 4.0

Menurut WHO ada 4 kategori seseorang disebut sehat yaitu sehat mental, sehat sosial, sehat spiritual, dan sehat jasmani. Apa pentingnya bagi milenial paham tentang kesehatan mental? Kesehatan mental meliputi emosional, psikologikal, dan kesejahteraan sosial. Kesehatan mental berpengaruh pada 3 hal: cara berpikir, cara merasa, dan cara berperilaku. Berikut ini beberapa macam gangguan jiwa:

  • Prevalensi Skizofrenia/Psikosis : meningkat dari 0.15% menjadi 0.18%
  • Prevalensi Gangguan Mental Emosional : (usia >15 tahun) meningkat dari 6.1% (2013) menjadi 9.8 % (2018)
  • Prevalensi depresi (usia >15 tahun) : meningkat menjadi 6.1% (2018) ~ 12 juta penduduk

Waspadalah terhadap film yang kamu tonton!

Gangguan jiwa dapat memicu keinginan bunuh diri. Selain faktor gangguan jiwa, keinginan bunuh diri juga dipengaruhi oleh media (film). 

Kategori film ini di antaranya film yang yang mempertontonkan metode bunuh diri secara gamblang  (Carmody, 2017). 

Hasil penelitian mengungkap peningkatan 28,9% tingkat bunuh diri remaja AS (usia 10-17 tahun) selang beberapa minggu setelah menonton film ’13 Reasons Why’ (Horowitz, 2017).

Wether Effect (Copycat suicide)

Merupakan kondisi terjadinya peningkatan kejadian bunuh diri oleh orang-orang, setelah adanya publikasi mengenai bunuh diri baik di televisi maupun media lainnya termasuk media sosial. 

Nama Werther diambil dari novel karangan Goethe (1774) yang berjudul The Sorrows of Young Werther. Pada novel tersebut diceritakan seorang pria bernama Werther yang menembak dirinya sendiri dengan pistol. 

Setelah publikasi novel tersebut, dilaporkan kejadian bunuh diri meningkat tajam. Orang yang berada dalam kondisi mental yang rentan, misalnya depresi dan gangguan kepribadian dapat berpikir bahwa tindakan bunuh diri dibenarkan karena terdapat ‘contoh’ orang lain. Apalagi ‘contoh’ itu kemudian disebarluaskan melalui berbagai media.

Berapa banyak pelaku bunuh diri?

Data dari WHO Global Health Estimates tentang angka bunuh diri dan usia pelaku bunuh diri, diungkap usia 20 tahun menempati angka bunuh diri tertinggi, yaitu 85.000 orang.

Responden laki-laki lebih banyak yang melakukan percobaan bunuh diri (4,4%) dibandingkan responden perempuan (3,4%). (GSHS-Litbangkes Kemenkes Republik Indonesia, 2015)

Hasil penelitian tentang pemicu bunuh diri

Gangguan mood yang kemudian didiagnosis psikiatrik yang paling sering dikaitkan dengan bunuh diri, terungkap bahwa depresi merupakan salah satu faktor risiko bunuh diri yang paling penting.

Penelitian di New York juga mengungkap bahwa faktor terkuat terjadinya bunuh diri pada remaja adalah upaya bunuh diri sebelumnya dan depresi mayor (Adcock et al., 1991)

Lima Hal yang Bisa Menjaga Kesehatan Mental

1) Connect

Pahami bahwa silaturahmi itu tidak sekedar saling menghubungi, tapi juga saling saling mengunjungi. Jadi selain bertegur sapa melalui sosial media, imbangi juga dengan saling mengunjungi di dunia nyata. 

2) Be active

Imbangi aktivitas bersosial media dengan melakukan kegiatan di dunia nyata. Kalian juga bisa melakukan diet sosmed atau bahkan diet internet. 

3) Be creative

Jangan gampangan terhadap potingan orang lain. Misalnya merasa postoingan orang lain untuk menyindir kita.

4) Give to others

Kita nggak harus jadi influencer untuk posting sesuatu yang positif. Kita bisa mulai dari yang hal kecil tapi kita lakukan dengan istiqomah. Misalnya nih, jangan memposting konten negatif (pornografis atau provokatif). 

5) Be mindfull

Hiduplah dengan penuh kesadaran bahwa bahwa hidup itu. sadarilah bahwa setiap detik waktu yang kita pakai itu berharga dan akan Allah minta pertanggungjawabannya.  

Posting Komentar untuk "Kesehatan Mental Remaja, Sains, dan Islam"