Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Batas-Batas Sains dalam Syari’at Islam

 Apakah yang dimaksud sains?

ilustrasi : genetic material (pixabay)

Sains adalah kumpulan pengetahuan/pemahaman tentang gejala, fenomena, dan dinamika alam. Meliputi pengetahuan empiris maupun teoritis. Cara mengumpulkannya dengan metode ilmiah (
Scientific method).

Scientific method dapat diartikan series of steps to collect information or solve problems. Langkah-langkah metode ilmiah di antaranya observasi, merumuskan hipotesis, melakukan eksperimen, menganalisis data, dan menarik kesimpulan.

Ada tiga aspek yang membedakan antara sains dan agama, yaitu Sumber, Sifat kebenaran, dan Batasan waktu berlakunya hukum. 

Tabel perbedaan Sains dan ilmu agama (Islam)

No

Aspek

Sains

Ilmu agama (Islam)

  1

Sumber

Data eksperimen

Allah yang Maha Sempurna Ilmu-Nya

2

Sifat kebenaran

Berawal dari fakta atau asumsi

Berawal dari keyakinan dan keimanan

3

Batasan waktu berlakunya hukum

Teori dan hukum dalam sains dapat berubah jika ditemukan fakta lain

Hukum dalam islam  tidak mempunyai batas waktu

Hukum mempelajari sains adalah mubah. Sebagaimana hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Bagi sebagian kaum muslimin mempelajari sains hukumnya Fardhu Kifayah.

Sains dan tafsir Al-Qur’an

Sains bukanlah penafsir Al-Qur’an. Mengapa? Karena Al-Qur’an ditafsirkan dengan Al-Qur’an, Sunnah nabi, dan penjelasan/pendapat dari sabahat nabi. Oleh karena itu, jangan menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab sains. 

Hikmah Dalam Al Qur’an

Penemuan dalam sains merupakan bagian di dalam Al Qur’an yang dengannya akan menguatkan Tauhid Rububiyah, dan Tauhid Rububiyah akan membawa pada Tauhid Uluhiyah. Contoh:

Mengapa babi haram dimakan oleh orang muslim?

Karena Allah dan Nabi telah melarangnya. Jika terdapat hal-hal yang menyebabkan timbulnya penyakit akibat memakan babi, itu bagian dari hikmah dilarangnya memakan babi.

Apa Saja Batasan Sains?

Sains terbatas pada fenomena yang dapat diukur dan diteliti dengan panca indera manusia, baik itu bidang biologi, fisika, atau kimia.

Sesungguhnya semua penemuan manusia itu menunjukkan kelemahan manusia. Oleh karena itu, tidak pantas manusia merasa sombong.

Ketinggian Ilmu Agama Terhadap Sains

Ketinggian ilmu  ditentukan oleh objek yang menjadi objek yang dikaji. 

Ilmu tauhid  adalah setinggi-tingginya ilmu karena mempelajari Ke-esa-an Allah Subhanahu Wata'ala.Sehingga tidak layak orang yang mempelajari sains kemudian meninggalkan ilmu agama.

Ranah dan Tujuan Belajar Sains

Tujuan dari belajar sains ialah untuk memikirkan ciptaan Allah Subhanahu Wata'ala dan bukan memikirkan Dzat Allah. 

Melalui ilmu sains yang telah dipelajari kita bisa menjadi manusia yang banyak manfaatnya bagi diri sendiri maupun bagi manusia lain. Sehingga hendaknya bersemangat pada hal yang bermanfaat.

Waspada Terhadap Pseudosains 

ilustrasi pseudosains(pixabay)


Pseudosains merupakan klaim pengetahuan yang tidak diperoleh melalui metode saintifik yang baku dan tidak pula disertai bukti yang menguatkan. Pseudosains semakin terlihat meyakinkan ketika dihubungkan dengan ayat Al Qur’an.

Penyimpangan Sains

Setiap muslim harus cermat memilih informasi atau penelitian sains karena tidak semuanya sesuai syariat islam. Beberapa contoh sains yang menyimpang dari syariat islam:

  1. Membuat metode sintesis yang efisien untuk produksi minuman keras
  2. Menjadi atheis karena mempelajari fisika, kimia, atau biologi.
  3. Melakukan simulasi untuk menghitung suhu neraka. 

===========================================================

Sumber : 
Materi Seminar dengan tema "The Scientist" yang diselenggarakan oleh Yayasan al Kahfi, Kota Salatiga, 2019. Disampaikan oleh Dr. Setyanto Tri Wahyudi, M. Si (Dosen Jurusan Fisika, ITB)

Posting Komentar untuk "Batas-Batas Sains dalam Syari’at Islam "