Akibat buruk Iklan Rokok

"Papan iklan di tepi jalan dan satpam sekolah" ujar Amalia (8) saat ditanya dari mana mengetahui rokok untuk pertama kali dan orang pertama yang diliatnya merokok. Kebetulan di keluarganya tidak ada satu orangpun menjadi perokok.

"Lihat dijual di toko dan papa merokok," kata Yudha (7) saat ditanya pertanyaan yang sama.

Mungkin akan ada lebih beragam jawaban jika satu persatu anak-anak di seluruh Indonesia ditanya mengenai perkenalan pertama mereka dengan sebatang racun bernama rokok.

Namun, satu hal yang terkesan ironis adalah sebagian besar anak-anak itu mengenal rokok untuk pertama kalinya di rumah, entah melalui ayah, ibu, paman, kakak atau kakek.

Menurut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono, sekitar lebih dari 43 persen anak-anak Indonesia hidup serumah dengan perokok atau menjadi perokok pasif.

Dalam survei WHO yang dilakukan di 100 negara secara serentak pada 2004-2006 termasuk Indonesia, terungkap bahwa 12,6 persen pelajar setingkat SMP adalah perokok dan sebanyak 30,9 persen pelajar perokok tersebut mulai merokok sebelum usia 10 tahun dan 3,2 persen dari mereka sudah kecanduan.

Hasil lain dari survei itu adalah 64,2 persen pelajar SMP menyatakan terpapar asap rokok orang lain --perokok pasif-- di rumah sendiri dan 81 persen pelajar SMP terpapar dari tempat-tempat umum.

Menurut Iman, ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) --suatu hukum internasional dalam pengendalian tembakau-- adalah faktor kunci perlindungan anak-anak dari bahaya tembakau.

"Dalam FCTC itu nanti akan ada aturan-aturan turunan yang salah satunya mengatur iklan rokok," ujarnya.

WHO mengklaim bahwa pelarangan segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok terbukti bisa menurunkan tingkat konsumsi rokok hingga 16 persen.

"Orang itu secara alami tidak suka merokok jadi pengaruh iklan itu sangat besar bagi anak-anak, itulah sebabnya perlu hukum yang jelas," katanya.

Sekalipun sejumlah pemerintah daerah dalam beberapa tahun terakhir juga telah membuat sejumlah perda yang mengatur tempat untuk merokok, namun pemerintah Indonesia yang tergabung dalam salah satu penyusun FCTC --yang telah disepakati secara aklamasi dalam sidang WHO 2003-- menjadi satu-satunya negara di Asia Pasifik yang tidak menandatangani dan belum melakukan aksesi FCTC.

Sehingga terkesan ironis ketika pemerintah sibuk mengimbau anak-anak muda untuk tidak merokok melalui tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2008, "Anak Muda Tanpa Rokok/Tobacco Free Youth" namun tidak mencoba menyediakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak yang kadang masih terlalu hijau untuk memilih.

Anak-anak yang sebagian besar bahkan belum cukup umur dan hidup di lingkungan yang sangat akrab dengan rokok diharusnya mempunyai kesadaran penuh bahwa rokok tidak sehat sehingga harus dijauhi.

Selama ini, disadari atau tidak pemerintah memang terkesan enggan melepas keuntungan-keuntungan yang dihasilkan dari industri rokok, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga pajak.

Jika selama ini pajak yang telah disumbangkan oleh perusahaan rokok di Indonesia memang benar digunakan untuk membiayai pembangunan --salah satunya mungkin pembangunan rumah sakit kanker dan jantung-- maka jangan-jangan rakyat Indonesia harus berterima kasih pada jutaan perokok di Indonesia yang sudah rela mengorbankan kesehatannya demi kelangsungan industri rokok dan pajak dari mereka.

Jangan-jangan pula para perokok tersebut layak mendapat julukan pahlawan pembangunan karena rela mengorbankan kesejahteraan keluarganya untuk tetap menghisap rokok yang jelas-jelas sudah mereka ketahui akibat buruknya.

Tapi, satu yang jelas diuntungkan tentu saja para taipan rokok yang menduduki deretan 10 orang terkaya di Indonesia. Simalakama industri rokok itu terpotret jelas dalam film satir unggulan Golden Globe Award 2006 karya Jason Reitman yang berjudul Thank You for Smoking.

0 Response to "Akibat buruk Iklan Rokok"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel