Contoh penelitian kimia uji boraks dan formalin dalam makanan

Chemistricks.com - CONTOH PENELITIAN SEDERHANA DALAM BIDANG KIMIA
uji makanan berformalin
 

Uji Kualitatif (Uji Nyala dan Organoleptik) Boraks dan Formalin dalam Makanan
a.    Dasar Teori
Maraknya kasus zat pengawet makanan pada mie, tahu, dan ikan asin sungguh memprihatinkan. Betapa tidak,dibalik nikmatnya hidangan mie ayam, bakso, atau batagor, zat kimia berbahaya ikut menyelinap masuk ke tubuh kita. Repotnya, kita sebagai konsumen sulit menentukan apakah mie dan tahu yang kita santap mengandung boraks atau tidak. Kandungan boraks hanya bisa diketahui melalui uji laboratorium.
Tingkat pengetahuan yang rendah mengenai bahan pengawet merupakan faktor utama penyebab penggunaan formalin dan boraks pada mie. Beberapa survey menunjukkan, alasan produsen menggunakan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet karena daya awet dan mutu mie yang dihasilkan menjadi lebih bagus, serta murah harganya, tanpa peduli bahaya yang dapat ditimbulkan.
Hal tersebut ditunjang oleh perilaku konsumen yang cenderung membeli makanan berharga murah, tanpa mengindahkan kualitas.Dengan demikian, penggunaan formalin dan boraks pada mie dianggap hal biasa. Sulitnya membedakan mie biasa dan mie yang dibuat dengan penambahan formalin dan boraks, juga menjadi salah satu faktor pendorong perilaku konsumen tersebut.
Deteksi formalin dan boraks secara akurat hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan bahan-bahan kimia, yaitu melalui uji formalin dan boraks.Untuk itu, perlu dilakukan upaya peningkatan kesadaran dan pengetahuan bagi produsen dan konsumen tentang bahaya pemakaian bahan kimia yang bukan termasuk kategoribahan tambahan pangan. Selain itu, diperlukan sikap pemerintah yang lebih tegas dalam melarang penggunaan kedua jenis pengawet tersebut pada produk pangan.
Mie basah digunakan untuk produk makanan seperti mie bakso, mie ayam, mie goreng, ataupun pada pembuatan makanan cemilan lainnya. Kadar air mie basah tergolong tinggi sehingga daya awetnya rendah. Penyimpanan mie basah pada suhu kamar selama 40 jam menyebabkan tumbuhnya kapang. Untuk itu, dalam pembuatan mie basah diperlukan bahan pengawet agar mie bisa bertahan lebih lama.
Mungkin karena faktor ketidaktahuan banyak produsen yang menggunakan formalin atau boraks sebagai pengawet. Selain memberikan daya awet, kedua bahan tersebut juga murah harganya dan dapat memperbaiki kualitas mie. Menurut beberapa produsen, penggunaan boraks pada pembuatan mie akan menghasilkan tekstur yang lebih kenyal. Sementara itu, penggunaan formalin akan menghasilkan mie yang lebih awet, yaitu dapat disimpan hingga 4 hari.
Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemakaian formalin pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. Gejala yang biasa timbul antara lain sukar menelan, sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, timbulnya depresi susunan saraf, atau gangguan peredaran darah. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan haimatomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian, injeksi formalin dengan dosis 100 gram dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3jam.
Boraks juga dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi mekanisme toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks yang terkandung di dalam makanan tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Boraks yang terdapat dalam makanan akan diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, atau testis (buah zakar), sehingga dosis boraks dalam tubuh menjadi tinggi (Winarno dan Rahayu, 1994).
Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya gejala pusing-pusing, muntah, mencret, dan kram perut. Bagi anak kecil dan bayi, bila dosis dalam tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih, akan menyebabkan kematian. Pada orang dewasa, kematian akan terjadi jika dosisnya telah mencapai 10 - 20 gram atau lebih.
Uji nyala adalah salah satu metode pengujian untuk mengetahui apakah dalam makanan terdapat boraks atau tidak. Disebut uji nyala karena sampel yang digunakan dibakar uapnya, kemudian warna nyala dibandingkan dengan warna nyala boraks asli. Tentu sebelumnya telah diketahui bahwa serbuk boraks murni dibakar menghasilkan nyala api berwarna hijau. Jika sampel yang dibakan menghsilkan warna nyala hijau maka sampel dinyatakan positif mengandung boraks.
b.    Tujuan Penelitian
1.    Mengidentifikasi adanya boraks pada sampel bahan makanan melalui uji nyala.
2.    Mengidentifikasi adanya formalin pada sampel bahan makanan.
c.    Alat dan Bahan
1.    Cawan porselen
2.    Tang Krus
3.    Gelas Kimia Kecil
4.    Lumpang dan alu
5.    H2SO4 pekat
6.    Larutan KMnO­4 encer
7.    Metanol (spirtus)
8.    sampel : mie basah, bakso, siomay, bleng, dll
d.    Prosedur Percobaan
1.    Uji nyala boraks pada sampel
a.    Timbanglah sejumlah sampel masing-masing sebanyak 5 gram sampel.
b.    Bakarlah sampai terbentuk arang.
c.    Arang yang terbentuk dihancurkan (gerus) sampai lembut.
d.    Serbuk yang terbentuk masukan kedalam cawan penguap.
e.    Tambahkan 10 tetes H2SO4 pekat dan 2 ml metanol kedalam cawan porselen.
f.     Uap yang terjadi segera dibakar.
g.    Nyala api yang timbuk akan berwarna hijau jika mengandung boraks
2.    Uji organoleptik boraks pada sampel
a.    Uji organoleptik hanya berlaku untuk baso dan sejenisnya.
b.    Pilihlah sampel baso yang akan diuji.
c.    Lemparkan ke lantai atau ke meja.
d.    Amati pantulan yang dihasilkan dari proses pelemperan.
e.    Jika pantulan yang dihasilkan relative tinggi maka sampel positif mengandung boraks.
3.    Uji formalinpada sampel
a.    Timbanglah sejumlah sampel masing-masing sebanyak 5 gram sampel.
b.    Tambahkan ke dalam sampel asam sulfat 1 M secukupnya.
c.    Panaskan dalam pembakar spiritus sampai hangat.
d.    Dalam keadaan hangat tambahkan larutan KMnO4 encer tetes demi tetes.
e.    Jika warna ungu dari KMnO4 tidak hilang diduga tidak mengandung formalin.
f.     Jika warna ungu dari KMnO4 hilang diduga mengandung formalin, dan jika penambahan KMnO4 tetes demi tetes warnanya langsung hilang menunjukkan kadar formalinnya sangat tinggi.

0 Response to "Contoh penelitian kimia uji boraks dan formalin dalam makanan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel