Mendeteksi pembunuhan menggunakan kimia Forensik

shares |

Chemistricks.com - Mendeteksi pembunuhan menggunakan kimia Forensik

Pembunuhan merupakan kejahatan tertua di muka bumi. Beragam cara metode pembunuhan dilakukan manusia untuk menghilangkan nyawa seseorang. Salah satu metode yang lazim digunakan adalah menggunakan racun.

Cara ini dianggap efektif, sebab seringkali tidak ditemukan jejak pembunuh yang tertinggal di TKP melalui metode racun ini. Sepanjang sejarah, ketersediaan racun memudahkan seseorang melakukan tindak pembunuhan. Arsen, deadly nightshade, racun hemlock, striknina, dan kurare adalah sederetan racun yang digunakan sepanjang sejarah. Tanpa metode penentuan yang akurat ketika ditemukan bahan kimia tertentu, penebar racun seringkali tidak pernah dihukum atas tindak kejahatannya

Oleh sebab itu, penemuan James Marsh yang dilakukan pada abad ke 19 telah berjasa besar bagi metode pengungkapan pembunuhan menggunakan racun tersebut.
Sary:Marsh James.jpg
James Marsh


Pada tahun 1836, salah satu kontribusi besar pertama pada kimia forensik diperkenalkan oleh James Marsh. Ia menciptakan uji Marsh untuk mendeteksi arsen yang sering berhasil digunakan dalam percobaan pembunuhan. Sejak saat itu pula toksikologi forensik mulai diakui sebagai disiplin ilmu tersendiri. Mathieu Orfila, "bapak toksikologi", membuat gebrakan dalam bidang ini pada awal abad ke-19. Ia membantu mengembangkan pengujian yang dapat menentukan keberadaan darah dan yang pertama kali menggunakan teknik mikroskopi dalam analisis darah dan semen (air mani). Orfila juga merupakan kimiawan pertama yang sukses mengklasifikasikan bahan kimia yang berbeda ke dalam kategori-kategori seperti korosif, narkotika, dan astringen (astringent).

Pengembangan selanjutnya dalam deteksi racun muncul pada tahun 1850 ketika sebuah metode yang valid untuk mendeteksi alkaloid sayuran dalam jaringan manusia diciptakan oleh kimiawan Jean Stas. Metode Stas dengan cepat diadopsi dan sukses digunakan di pengadilan untuk menjatuhkan hukuman kepada Count Hippolyte Visart de Bocarmé atas pembunuhan saudara iparnya menggunakan racun nikotin. Stas berhasil mengisolasi alkaloid dari organ korban yang membuktikan Count Bocarmé membunuh saudara iparnya. Protokol Stas sering digunakan untuk pengujian-pengujian terkait dengan kafeina, kuinina, morfin, striknina, atropin, dan opium.

Sejumlah besar instrumentasi untuk analisis kimia forensik juga dimulai sepanjang periode ini. Pada tahun 1859, kimiawan Robert Bunsen dan fisikawan Gustav Kirchhoff menemukan spektroskop pertama. Percobaan mereka dengan spektroskopi menunjukkan bahwa zat tertentu menciptakan spektrum unik ketika dipapar cahaya pada panjang gelombang tertentu. Dengan menggunakan spektroskopi, kedua ilmuwan mampu mengidentifikasi zat berdasarkan spektrum, menyajikan suatu metode identifikasi untuk bahan yang tidak diketahui. Pengembangan krusial lainnya dalam bidang ini ditemukan pada tahun 1906 oleh botanis Mikhail Tsvet: ia mengembangkan kromatografi kertas, asal muasal pengembangan kromatografi lapisan tipis, untuk memisahkan dan menguji protein tumbuhan penyusun klorofil. Kemampuannya memisahkan campuran menjadi komponen-komponen tunggalnya memungkinkan kimiawan forensik untuk menguji bagian-bagian bahan yang tidak diketahui terhadap basis data produk-produk yang dikenal. Dengan menyocokkan faktor retensi komponen yang dipisahkan dengan nilai yang telah diketahui, bahan-bahan dapat diidentifikasi. Seiring berjalannya waktu, teknik kromatografi telah semakin canggih dengan diperkenalkannya kromatografi cair dan gas. []

Related Posts

0 comment:

Post a Comment